8 June 2008

ASWAJA MBAH HASYIM

Posted by admin under: Opini; Tajuk .

Oleh : Sholihuddin Qultum

Suatu saat, cak Ibin/Muhibbin Zuhri (Sekretaris PW GP Ansor Jatim) membuat pernyataan yang cukup menarik, yaitu bahwa inti dari ASWAJA adalah bermazhab. Pernyataan ini dilontarkan pada saat ngobrol tanpa tema di ruangan Mas Arief Junaidy (Sekjen DPW PKB) sekitar bulan oktober 2005. dan yang menarik lagi adalah, bahwa ASWAJA yang dipahami selama ini merupakan ASWAJA sebagai tafsir atas terma ahlussunnah wal jama’ah.

Pertama, ASWAJA yang kita kenal adalah ASWAJA sebagai produk tafsir terhadap ahlussunnah wal jama’ah. Maksud yang bisa kita gali dari asumsi di atas, bahwa ASWAJA yang kita pahami selama ini merupakan pemahaman baru terhadap ahlussunnah wal jama’ah versi kyai-kyai Indonesia, khususnya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, seperti yang tertuang dalam Qanun Asasi Nahdhatul Ulama’, yakni segolongan orang yang dalam bidang aqidah mengikuti Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dalam bidang fiqih mengikuti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali, sedangkan dalam bidang tasawwuf mengikuti Imam Junaidi al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

Kita sesungguhnya tidak tahu betul, kenapa Mbah Hasyim merumuskan ahlussunnah wal jama’ah seperti yang kita kenal ini, karena yang tahu adalah “ya” Mbah Hasyim sendiri. Kalaupun ada jawaban tentang kenapa Mbah Hasyim merumuskan seperti itu, kok nampaknya jawaban tersebut hanya bersifat analitis-rasional yang dihubungkan dengan sejarah kelahiran NU, seperti respon atas gerakan Wahabi di Indonesia dan dunia Internasional yang melakukan penghakiman “haram” terhadap tradisi keberagamaan umat Islam. Di Indonesia yang direpresentasikan oleh Muhammadiyah, al-Irsyad, dan Persis. Sedangkan secara internasional terjadi di Arab Saudi dengan penerimaan Wahabiyah sebagai faham keagamaan negara.

Terlepas dari argumentasi-argumentasi tersebut benar atau tidak, tetapi karena didukung oleh dokumen-dokumen sejarah dan kajian-kajian ilmiyah-akademik, maka kesimpulan tersebut harus diterima selama belum ada kesimpulan baru yang lebih ilmiyah, begitu menurut teori. Hanya saja, yang patut kita carikan jawabannya adalah kenapa Mbah Hasyim merumuskan ASWAJA seperti itu ?.

Ada jargon “thingk globally, act locally” (berfikir global, bertindak lokal). Begitulah sosok pemikiran dan kiprah Mbah Hasyim. Dengan merumuskan ahlussunnah wal jama’ah sebagaimana di atas, seakan-akan Mbah Hasyim ingin mengatakan kepada dunia Internasional bahwa :
1. Tradisi keberagamaan yang telah berkembang dan mempunyai kontribusi dalam pengembangan dan perkembangan Islam jangan di otak-atik, hormatilah !
2. Perbedaan pemahaman dikalangan umat merupakan rahmat. Dengan adanya perbedaan tersebut akan membawa kemudahan bagi umat untuk melakukan ibadah sesuai dengan kondisi dan situasi.
3. Bermazhab merupakan konsekwensi logis bagi umat yang jauh dari masa Rasulullah saw. tatkala hidup sebagai otoritas yang paling syah untuk menafsirkan al-Qur’an.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa Mbah Hasyim mesti merumuskan seperti itu?, kenapa tidak—umpamanya—dalam aqidah hanya mengikuti Imam al-Asy’ari, fiqih Imam al-Syafi’i, dan tasawwuf Imam al-Ghozali sebagaimana kebanyakan umat Islam Indonesia?. Sekali lagi, yang dilakukan oleh Mbah Hasyim adalah untuk kepentingan umat Islam internasional. Namun, untuk melakukan perlawanan terhdap wahabi ini, Mbah Hasyim menggunakan NU dengan dukungan kyai-kyai di Jawa-Madura. Wallahu A’lam!

6 Comments so far...

ari Says:

9 June 2008 at 5:57 pm.

saudara udin, yth.
tulisan anda bagus,gampang dipahami.
ada sedikit koreksi:
1. yang ditulis Hadratus Syaikh bukan Qanun Asasi.., tapi Muqaddimahnya. Jadi yang betul “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyat ahdlat al-Ulama”
2. dalam Mukadimah Qanun Asasi tersebut, Hadratus Syaikh tidak mencantumkan definisi Aswaja seperti anda tulis itu : mengikuti salah satu madzhab…dst. (mhn dicek ulang dokumen aslinya). Agar jangan mengulangi kesalahan DR Agil Siradj ketika menulis Aswaja yang kontroversial itu.
thanks ya.

John Says:

16 June 2008 at 5:46 pm.

Dear Pak Sholehuddin Qultum,
saya sering baca tulisan-tulisan bapak di media lokal maupun nasional,tulisan-tulisan bapak sangat enak di baca karena bahasa yang bapak pergunakan mudah di cerna dan dimenegrti, saya tunggu tulisan-tulisan bapak selanjutnya.
tapi menanggapi tulisan bapak tentang Aswajahnya Mbah hasyim saya kira kurang sempurna (7 alenia) boleh lah bapak bilang itu Kesimpulan namun bagi mereka yang awam tentang aswaja mereka akan bilang” koq aswajanya Mbah Hasyim hanya 7 Alenia” apa tidak kurang? mohon pencerahan dari bapak selanjutnya.
dan Selamat atas pernikahan bapak, semoga cepat di karuniai momongan yang lucu-lucu, Amien.

Salam,
John

Imron Says:

21 June 2008 at 9:44 pm.

jargon “think globally, act locally” ini pernah dilontarkan oleh Pak Yusuf pada akhir sanah Mass Tsanawiyah 1990

MrPresidenRI2020 Says:

23 June 2008 at 3:25 pm.

To,Sahabat Udin……
Menurut Sahabat,Secara Internasional di arab saudi menjadi faham kenegaraan padahal, kalau Sahabat masih ingat dengan DARUL ARQOM yang ada di MALASIA lebih berbahaya dikarenakan MERONGRONG PEMERINTAHAN.
Kegiatan waktu itu sangat halus dan tertutup sekali bahkan di Indonesia sempat membuat perkampungan di daerah JAWA BARAT ,dan waktu itu jargonnya ASWAJA sangat mirip /mungkin sama dengan NU.
Tolong Sahabat di Teliti lagi atau studi perbandingan denganASWAJA yang lain.

SALAM BUAT,CHIBIN……..
http://www.mrpresidenri2020.blogspot.com.

Bayu Pramutoko Says:

10 September 2008 at 8:48 am.

Assalamualaikum Cak Udin.
Saya buka Website Ansor Jatim ini, trus aku klik cabang. Tapi Kosong.Kami sudah punya Blog ansor Kota Kediri. Ditautkan dong, atau diupdate gitu lho

MUJIB F Says:

11 October 2009 at 12:27 pm.

membaca tulisan ini SEPERTINYA penulis tidak tahu menahu soal aqidah, keyakinan. apa yang telah dirumuskan olah mbah HASYIM BUKANLAH SESUATU YANG BARU MELAINKAN SESUATU YANG DIDAPAT DARI PARA TUAN GURU YANG MULIA SECARA TURUN TEMURUN YANG JUGA TERDAPAT PADA DOKUMEN KITAB KLASIK MAUPUN SEKARANG , TIDAK ADA YANG PERLU DISANGSIKAN LAGI MENGENAI KEBENARAN, KELUHURAN, KEAGUNGAN ASY,ARIYYAH MAUPUN MATURIDIYYAH, MEMBENARKAN ASY’ARIYYAH-MATURIDIYYAH BUKAN SEMATA- MATA MENURUT KATA SEORANG GURU, MELAINKAN JUGA PEMBUKTIAN JIKA DI TELAAH SECARA SERIUS DENGAN TATACARA BERPIKIR YANG SISTEMATIS MAKA HANYA ASY’ARIYYAH -MATURIDIYYAH JUA YANG LAYAK DISEBUT AHLUSSUNNAH. SILAHKAN TELAAH KEMBALI AHLUSSUNNAH DALAM SUMBER2 YANG MU’TABAR/ VALID JANGAN LUPA BANDINGKAN DENGAN FIRQAH2 LAIN. SAYA TAK PERLU MENUNJUKKAN KITAB MANA?, BUKU APA? KARENA BAPAK YANG TERHORMAT ADALAH TOKOH NU, penerus yang mulai gurunya para guru HADLROTUS SYEIKH mbah HASYIM ASY’ARI ROHIMAHULLAH

Leave a Reply

Search

Pages

Informasi

Archives